Pengumpan RSS

jadi asisten guide 2

Tanggal 18 pagi, kita mampir dulu ke rumahku di Cibaduyut karena Magi dan Alex pengen banget ngeliat seperti apa sekolahan di Indonesia dan kebeneran keluarga gue kan membina TK sederhana yang kebetulan berlokasi di halaman belakang rumah untuk anak-anak sekitar rumah yang kebanyakan adalah anak para pengrajin sepatu yang notabene sangat sederhana hidupnya ya udah gue ajak ke rumah ajah.

Gak nyangka ternyata kedua orang ini sangat seneng anak-anak. Mereka tampak menikmati berinteraksi dengan anak-anak ini meskipun gak ngerti bahasanya dan meski berhadapan dengan guru TK yang grogi karena gak ngerti juga bahasa inggris hahaha berpoto bersama akhirnya menjadi penyelamat kekikukan itu apalagi pas anak-anak yang berjumalah 20an itu satu persatu mencium tangan Alex dan Magi waaaaa mereka berdua tampak senang dan terharu sekali dengan pengalaman dicium tangan ala anak-anak Indonesia ini.

Beres berpoto kemudian gue ajak Ira-Magi-Alex ke rumah untuk menikmati sarapan pagi yang udah disiapkan nyokap. Diawali dengan aneka gorengan khas bandung.

Gue “hey please have a seat and eat this light snack ala Bandung. This is Pisang Goreng or fried Banana, this one is Gehu or fried Toffu and that one is Bala-bala or dirty-dirty*”.

*(Bala (bahasa Sunda) = kotor / berantakan (bahasa Indonesia) = dirty / messy (dalam bahasa Inggris)…so that makes bala-bala is dirty-dirty or messy-messy but let’s skip this messy thing secara messy itu nama mantan penyanyi cilik Indonesia yang kalo nyanyi suka kecolok matanya itu bukan??)

Lalu mereka coba satu persatu dan mereka suka banget terutama sama pisang goreng. Sambil ngobrol dan ketawa-ketiwi gak kerasa Magi ngabisin 5 pisang goreng sementara Alex tampak menikmati tahu goreng.

“Idfi, I love this fried banana. This is sooooooo good!” kata Magi

Sementara Alex bilang “but I love this tofu thing although a little bit spicy but tastes soooo delicious”.

Ah syukur atuh kalau cocok dilidah. Dan gak berapa lama kemudian gue bilang “hey breakfast is ready, let’s eat!”.

WHATTTT? This is not yet breakfast?” Tanya Magi-Alex serempak dengan menampakkan ekspresi kaget sambil nunjuk ke pisang goreng yang lagi mereka kunyah.

heh this is Indoenesia. We eat three time big meal a day. If we haven’t eaten rice that means we haven’t eaten at all

Hahaha ini Indonesia bung. Kita makan besar 3 kali dalam sehari. Tapi kenapa ya badan kita gak sebesar dan setinggi bule-bule dan si hitam itu?

Menu sarapan sederhana aja sih Cuma sama nasi goreng, telor goreng mata sapi, tahu dan tempe. Sengaja gak pake daging bukan saja untuk menghargai Magi yang seorang vegetarian tapi emang permintaan untuk nyiapin sarapan ini dadakan jadi nyokap gak sempet belanja and not to mention bahwa mereka berdua adalah budget traveler alias berkantong tipis jadi prinsip lebih murah ya lebih baik. Ya udah gue kasih bonus ajah sebagai bagian dari keramah tamahan ala timur lah… itung-tiung nambah sodara.

Gak disangka ternyata mereka menikmati sarapan sederhana itu. Malah Magi nambah nasi+tahu+tempe. Syetttt dah katanye kenyang…mayan mumpung gratisan ya bo hehehee tapi seneng banget karena tu si item putih tampak menikmati sarapannya.

it was so good, thanks Idfi” kata mereka.

Beres sarapan langsung capcus ke ciwidey dengan tujuan pengen melihat kawah putih. Sepanjang perjalanan kita ngobrol banyak hal; tentang slovenia, tentang sejarah, budaya,  tentang impian dan passion, tentang buku favorit, lagu favorit, tentang film dan banyak lagi. Ternyata dari obrolan itu barulah ketauan kalau gue sama magi punya buku favorit yang sama yaitu novelnya Paolo Coelho, The Alchemist, terus kita juga suka sama film-film yang sama…no wonder perjalanan ini mengasyikkan dengan obrolan mengasyikkan pula …

hei what are they doing? Can we stop by?” Magi tiba-tiba nanya sambil nunjuk ke para petani yang sedang memanen, membajak sawah di hamparan sawah di kawasan Soreang dekat Stadion Jalak Harupat. Kita pun berhenti dan turun ke sawah melalui pematang sawah, menghampiri para petani dan ngobrol-ngobrol dengan mereka tentang sawah dan kehidupan mereka.

wow…these farmers must be very rich having this kinda huge rice field?!” Tanya Magi. Jeng bukan mereka yang punya sawahnya para petani ini mah petani bayaran ajah kaleee (bener ga ya? hehehe)

“aaaaaaaaaa there’s lizzard over there” teriak Magi yang kaget ngeliat kadal nyelonong kagak pake permisi deket kakinya. “is there any snakes here?” tanyanya lagi, “yes there are many” jawab gue…”aaaaaa let’s get out of here” teriak Magi.

Kita pun melanjutkan perjalanan ke Ciwidey.

Akhirnya setelah menempuh perjalan, plus dengan stop di sawah, kurang lebih 2 jam dari Cibaduyut akhirnya kita nyampei juga di pintu masuk kawasan Kawah Putih Ciwidey. Berdasarkan buku panduan para traveler, lonely planet edisi Januari 2010 yang dipegang Magi, harga masuk ke Kawah Putih Cuma Rp. 7500 tapi begitu kita mau bayar ternyata di loket masuk sudah terpampang pengumuman harga baru tiket masuk Kawah Putih per Maret 2010.

Weekdays: wisatawan domestic Rp. 12.000, wisatawan Asing Rp. 30.000

Weekends: wistawan domestic Rp. 20.000, wisatwan asing Rp. 40.000

Karena kita naek mobil dengan 5 orang penumpang termasuk sopir maka kita dikenai biaya Rp. 210.000,(untuk mobil dengan 5 orang penumpang)

“waaaa kok mahal banget pak?” Tanya ira

“iya ini yang buat kebijakan dari Perhutani dan baru keluar bulan Maret kemarin neng” jawab petugas tiket.

“ya udah kita jalan ajah ke atas menuju kawah nya. Berapa kilo kira-kira ke atas nya pak?” Tanya gue

“oh silahkan atuh mangga kalau mau jalan kaki mah. Jaraknya dari pintu tiket ini ke parkiran atas 5 km” jawab petugas tiket enteng. Buset dah jauh bener.

Magi yang tahu kalau tiket masuk wisnus lebih mahal nyelutuk “this isn’t fair that we have to pay more. It only happens in Indonesia”. Hehehehe kesian deh jadi bule kena diskriminasi harga tiket masuk.

Akhirnya kita masuk tanpa menggunakan mobil. Mobil kita simpen di parkiran bawah dan cukup bayar Rp. 6000 ribu buat parkir mobil. Lalu kita naik shuttle service yang disediakan dengan membayar Rp. 8000/orang PP parkiran bawah-parkiran atas-parkiran bawah. Tapi kita sempet nunggu karena shuttle bus itu baru berangkat jika penumpangnya sudah ada 13 orang.

Terus terang gue dan Ira juga baru pertama kalo ke kawah putih ini hehehe selama ini Cuma denger dari orang-orang dan dari internet ajah. Tempatnya ternyata indah..Kawahnya dikelilingin gunung yang hijau oleh hutan. Kawah yang berwarna agak hijau keputihan itu mengeluarkan bau belerang yang menyengat tapi tak menghalangi para pengunjung untuk menikmati pemandang sambil makan stoberi sebesar bola bekel berasa manis asim segar seharga Rp. 10.000 satu pak (berisi 30 buah) dan tentu berfoto. Bahkan magi magi dan alex difoto di bibir kawah dengan kaki tercelum di danau kawah tersebut. Airnya hangat.

Beres menikmati pemandangan kawah kita turun dengan shuttle service yang sama. Dan ada mba-mba yang tampak menenteng stroberi bertanya “mas, beli stroberi juga ya enak ya. Beli berapa satu pak mas?”, gue “yang pertama saya beli rp. 10.000, tapi yang kedua saya beli Cuma Rp. 7.500 murah kan mba (bangga karena bisa nawar dari Rp. 15.000 jadi Rp. 7.500)?”, mba “aku duonks belinya cuma Rp. 5000!”. Damn.

Karena hujan besar mengguyur kawasan Ciwidey siang itu membuat kita gak jadi teawalk di areal perkebunan teh Walini dan gak jadi piknik ke Situ Patenggang yang lokasinya gak jauh dari Kawah Putih. Kita langsung meluncur kembali ke Bandung untuk mengejar pertunjukkan angklung di Saung Angklung pak Udjo yang berlangsung dari pukul 15.30-17.30.

Alhamdulillah jalan pintas melalui tol kopo (keluar Pasteur dan tinggal lurus terus melewati pasopati-Jl. suci) membuat kita terhindar dari kemacetan jalan Kopo dan bisa tiba tepat sebelum pertunjukan (setelah menempuh kurang lebih dua jam perjalanan). Setelah membayar (touris mancanegara Rp. 80.000 dan turis domestic Rp. 50.000) maka menontonlah kami semua. Eh gue gak bayar masuknya hehehe.

Ah nonton pertunjukkan angklung di saung angklung pak udjo selalu menjadi sebuah tontonan yang sangat menghibur hati, menenangkan pikiran. Sekaligus membuat hari pikiran dan badan turut menari-nari mengikuti irama instrument tradisional khas sunda yang dimainkan dengan atraksi utamanya instrument angklung.

Ah gak ada yang bisa ngalahin suara-suara merdu yang dihasilkan angklung. Indah. Tar deh besok-besok gue cerita lebih detail tentang angklung ini yang pasti Magi-Alex sangat menikmati pertunjukkan ini apalagi kita bisa belajar main angklung dan bermain menari bersama anak-anak para pemain angklung. Ternyata Ira sang ibu guide juga sangat menikmati moment di Saung Angklung karena rupanya ini adalah kunjungan pertamakalinya.

Beres bersenang-senang di Saung Angklung Pak Udjo yang sangat menyenangkan itu kita langsung menuju Mie Bakso Lela di Jalan RancaKendal. Eh eh di dekat jalan masuk ke Saung Angklung ada tempat jualan jajanan khas Bandung, ada Awug (beras kelapa dengan gula aren), kelepon, dan beberapa jajajanan lainnya yang masih hangat dan Alek & Magi ternyata sangat menikmatinya dan bahkan ketagihan sampei pegnen punya resepnya.

Begitu sampe di Warung Lela kita langsung duduk di tempat favoritnya Ira dipojokan gitu dan bisa melihat perbukitan yang tampak berkerlap-kerlip dari lampu café-café atas bukit yang berjamur di daerah perbukitan utara Bandung (yang mungkin berkontribusi terhadap menurunnya kualitas keasrian alam kota Bandung tapi orang-orang teuteup menikmatinya termasuk gue hahaha).

Dengan aneka bakso dari mulai yamien komplit manis/asin (mie kering dengan kuah terpisah berisi bakso, tahu, pangsit dan siomay) sampai mie ayam jamur yang seporsinya rata-rata Rp. 10.000-Rp. 15.000 bisa membuat perut stop dari keroncongan. Soal rasa mah relatif. But I might say “not bad laaaah”. Tapi untuk urusan tempat bakso Lela boleh dibilang lebih unggul dibanding bakso-bakso lainnya karena bearada di area dataran tinggi Bandung utara sehingga bisa menikmati perbukitan dan kerlap-kerlip lampu di kota (hahah mengingatkan akan lagu jadul). Ahhhhh romantisnya jika aku menikmati sepiring bakso berdua dengan sang kekasih …

Ahhhh udah jam 8 malam “hey let’s go take picture on the photo box and karaoke?” ajak Magi. Aih lucu juga poto-poto bareng sama turis yang udah serasa temen akrab. Kitapun meluncur ke BIP. Berpoto bersama dengan pose konyol lalu lanjut ke Nav Plaza Dago untuk berkaroke. Seorang sahabat ikut bergabung, TB ari sang penghibur sejati hahaha. We really had so much fun. Bernyanyi berjoget nontstop dua jam. Ahhhh menyenangkan.

Aihhh udah jam 11 malem pulanggggggggg yuk?! Aku mau bobo mau mimpiin sang kekasih yang entah ada dimana L

Iklan

6 responses »

  1. arrgggh………….gak terasa udh seminggu lewat yaaaa…kangen bandung

    Balas
    • hey yaaa…thanks udah mampir ke blogku.salam kenal juga de. jangan lupa petualangan saya di italia bakal saya posting gak lama lagi. siapa tau SMASH mau jalan kesana…ajak-ajak yaaaa 🙂

      ciao
      idfi

      Balas
  2. Ka, aku pingin jadi tour guide juga. apa harus kuliah atau kursus yah?

    Balas
    • Hai Adinda, maap baru bales sekarang. Untuk jadi tourguide bisa ikutan diklat (pendidikan dan pelatihan) di dinas pariwisata. Kalo dinas pariwisata jakarta, biasanya tiap bukan feb-mar dibuka pendaftarannya. Gratis kok. Sekarang LB-LIA juga ada kursus tour guide. Tapi ga tak berapa bayarnya.

      Balas
    • Terus beberapa sekolah tinggi pariwisata juga ada jurusan tours travel dan pasti ilmu perguidingan diajarkan. Saya sendiri dulu belajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) / NHI di jl. Setiabudi

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: