Pengumpan RSS

A Confession of A Banci Tampil

1978

Hari Minggu tanggal 1 Oktober pukul 06.40 telah lahir ke dunia seorang bayi mungil lucu yang menggemaskan di kota Bandung. Diramalkan suatu hari nanti sang bayi akan menjadi seorang artis karena sejak “berojol” selalu dibilang oleh sang ibu bahwa bayinya mirip sekali dengan sang bintang idola, ROY MARTIN. Namun ramalan tersebut seperti nya meleset meskipun tidak sepenuhnya meleset karena menjelang dewasa sang bayi tersebut jadi “sekuter” alias selebriti kurang terkenal saat bekerja sebagai penyiar radio kondang di kota Bandung dan makin kondang setelah menjadi anggota boys band yang paling ganteng di antara anggota-anggota lainnya dan bahkan sering dibilang lebih ganteng dari Nicholas saputra #eaaaaa

Suatu hari di bulan februari tahun 2004 sang mantan bayi yang sudah menjadi pemuda ganteng itu bertekad hijrah ke Jakarta ya ke Jakarta sang ibukota negara tercinta dengan tujuan mulia mewujudkan cita-cita “MENJADI ARTIS TERNAMA”.

Si pemuda yang sejak bayi disebut-sebut mirip Roy Martin dan ketika sudah besar lebih ganteng dari Nicholas saputra itu bernama Idung. Ya panggil saja dia dengan sebutan IDUNG.

2004

“Jakarta oh Jakarta. Haruskah saya ke Jakarta?”

Idung tidak pernah bermimpi untuk hijrah ke Jakarta karena dia selalu beranggapan kalau Jakarta itu ruwet, macet, bikin stress, belum lagi orang-orangnya pada belagu tapi di sisi lain jiwa banci tampil yang sudah terbentuk dari 4 tahun dengan bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio TOP di Bandung membuat dia berpikir “KALO GUE GAK KE JAKARTA, KAPAN GUE JADI ARTISNYA?!” *sigh

Awal tahun 2004 saat gencar promosi besar-besar Trans TV mencari tenaga broadcast handal melalui Broadcast Development Program (BDP) 3A membuat hidup dia benar-benar bergairah karena ini berarti kesempatan untuk menjadi artis ada di pelupuk mata. Dia daftar dengan penuh semangat dan rasa percaya diri, ikut ujian tertulis dengan rasa optimisme tingkat tinggi dengan senyum lebar merekah dan penuh keyakinan bahwa sesaat lagi akan nongol di televisi dan jadi artis eh ralat maksudnya jadi presenter. Dan begitu liat soal ujian, “SOAL APAAN NIH?”, acara berburu makhluk gaib di Trans aja gak tau judulnya apa! Dia jawab aja “UKA-UKA” dan setelah bertanya ke seorang teman yang maniak Trans TV akhirnya dia tahu bahwa “DUNIA LAIN” adalah jawabannya. Well, sudah bisa ditebak dia dinyatakan TIDAK LULUS. Kamfret! Berhari-hari kemudian mukanya dikuasai si MANYUN!

Idung sempat merasa drop setelah dinyatakan tidak lulus. Tapi sebagai pejuang yang memperjuangkan tergapainya cita-cita untuk tampil di televisi, tidak lantas membuatnya menyerah begitu saja. Ibarat pepatah “Pucuk dicinta ulampun tiba”, tidak disangka beberapa minggu setelah gagal test, Trans TV mengadakan test khusus untuk orang-orang media berlokasi di Mall terbesar di kota Bandung. Dan setelah melalui proses interview teraneh karena harus nyanyi 3 lagu dia pun dinyatakan LULUS. Horeeeeee! Alhamdulillah ya sesuatu banget 🙂 dan posisi yang dia dapatkan adalah sebagai Floor Director (FD). Loh loh kok bukan presenter ya? (Idung beranggapan kalau menjadi presenter adalah gerbang menuju keartisan) tapi tak apalah, yang penting dia bekerja di dunia pertelevisian dan menjadikan FD ini sebagai batu loncatan meskipun dalam hatinya bertanya-tanya, “FD itu kerjaannya ngapain ya?”.

“Jakarta here I come! Roy Martin … Nicholas Saputra … sampai ketemu di Jakarta ya!” begitu teriaknya.

Bulan April tahun 2004 Idung mulai bergerilya sebagai TV broadcaster. Name tag berwarna putih bertuliskan Floor Director tersemat di dada. Ada rasa bangga bergemuruh di dada meskipun harus pergi pagi pulang pagi pantat paha pinggul pegal-pegal pulang-pulang pingsan dan pendapatan pas-pas an (tiap ditanya berapa pendapatan selalu dijawabnya “12 koma. Bukan 12 juta koma sekian Rupiah ya tapi tiap bulan habis tanggal 12 ya koma, kejet-kejet keabisan duit) tapi senyum selalu mengembang karena selalu terbayang tujuan akan dan harus tercapai.

Sebagai FD, Idung memang dituntut untuk selalu senyum mengingat dia bertugas mengatur alur acara di lapangan (studio), dan harus bertatap muka dengan banyak orang dari mulai sesama crew, para pendukung acara sekaligus memandu serta menghibur penonton.

Di saat waktu luang iseng-iseng ikut reporter divisi berita atau creative program infotainment Insert atau program variety show Lepas Malam saat liputan biar bisa jalan-jalan, makan-makan gratis dan yang penting bisa inframe alias nongol di layar kaca (gimana yaaa … namanya juga banci tampil).

Hingga akhirnya tawaran untuk ikut terlibat dalam sebuah produksi program TV pun datang. Rasanya bahagia sekali meskipun hanya “nongol” sekian detik dari dalam kotak kayu yang dirancang seolah-olah berfungsi sebagai music box saat berperan sebagai the talking music box di program extravaganza yang fenomenal (wow, that was his debut appearance on Trans TV). Pernah dapat peran di pilot project (lagi-lagi) program SO What Gitu Loh (SWGTL) yang dibintangi oleh Indra herlambang, Cut Tary dkk, meski tidak dapat bayaran sama sekali tapi tetap merasa menjadi pria paling beruntung di dunia karena impian menjadi artis di pelupuk mata. That’s him a happy budgetless talent!

Tak jarang Idung pun mengalami kejadian ngenes. Pernah tiba-tiba dimaki-maki oleh camera person (crew yang bertugas sebagai penata gambar) – yang satu pria dan satunya lagi perempuan, dan dua-duanya bilang, “GUE HAJAR LOE PAKE KAMERA!!!!” … ihhh, serem ya, nabrak-nabrak orang kok pakai kamera, kan kasihan kameranya. Atau  Pernah pula dapat peran sebagai stylist bencong dalam pilot project program Catatan Cantik (untung gak on air) yang kemudian membuatnya jadi sasaran ledekan teman-teman dan membuatnya ingin ngumpet berminggu-minggu. Pernah pula merasa sangat excited saat mendapat peran di  SWGTL, biarpun hanya menjadi tukang Koran dan meskipun disuruh standby dari jam 8 malam dan baru diambil gambar bagian saya jam setengah empat pagi tapi setidaknya dia dapat HONOR!!!! Honornya berapa? Catetttt: DUA PULUH RIBU PERAK!  Lumayan, buat beli CIRENG.

Pernah pula ketar-ketir saat bertugas sebagai FD dalam salah satu program komedi, salah satu artis perempuan bertubuh sintal yang tengah berakting maksimal tiba-tiba kembennya melorot dan semakin melorot meskipun saat itu dia sudah jungkir balik memberi kode agar sang artis menarik kembennya tapi rupanya peringatan itu terlambat. Idung ditakdirkan untuk menyaksikan, maaf, payudara sang artis yang nongol tanpa dosa dan itu siaran langsung. Speechless.

Selama kurang lebih 3,5 tahun Idung mendapatkan banyak pengalaman tak terlupakan dan begitu berharga selama bekerja di Stasiun Televisi Milik Kita Bersama tersebut  namun kejadian “disidang” dengan kata-kata kurang pantas dan dilempar Handy Talky (HT) oleh salah satu petinggi di depan rekan kerja saat dia bertugas di salah satu program membuatnya berpikir untuk mengakhiri kiprah  sebagai FD dan mengejar impian jadi artis di stasiun tv tersebut. Idung pun akhirnya memutuskan hengkang. Berhenti bekerja di stasiun tv tersebut bukan berarti menyerah karena ibarat pepatah bukankah ada banyak jalan menuju ke Roma?

Jakarta oh Jakarta. Tidak mudah ternyata menggapai impian di ibukota. Tapi lembaran baru harus segera dibuka.

2007

“Jakarta oh Jakarta bagaimanakah saya harus mengepakkan sayap dan harus hinggap kemanakah saya untuk bisa mewujudkan impian jadi artis kondang? Haruskah saya kembali ke Bandung? Haruskah saya hengkang ke Luar negeri? Apakah saya harus bertahan di Jakarta?” demikian Idung merenung.

Waktu berlalu. Meskipun sempat NYUNGSEB jadi agen asuransi tapi hingga hari ini Idung masih tetap menyimpan hasrat untuk mewujudkan impiannya agar bisa eksis meskipun tidak di layar kaca.

Idung memilih tetap bertahan di Jakarta dan masih eksis dari panggung ke panggung di Mall, Hotel, dan “Hajatan” sebagai MC kondang(an). Jika anda melihat seorang Master of Ceremony ganteng berhidung mancung perpaduan Roy Martin dan Nicolas saputra, jangan sungkan untuk menyapanya karena mungkin dia adalah si Idung (tapi jangan pernah pegang idungnya ya kalau tidak bulu ketek anda akan dijambaknya)

2012

Saat ini Idung juga tengah menikmati profesi sebagai tour guide dan tour leader yang baru dilakoninya dalam tiga tahun terakhir. Mempromosikan pariwisata dan budaya Jakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya sebagai tour guide serta menjelajah ke berbagai penjuru dunia sebagai tour Leader tengah dia nikmati.

Dia percaya bahwa dunia tidak selebar layar kaca. Tidak pula selebar layar perak. tidak perlu jadi tontonan jutaan pasang mata apalagi kehidupan pribadinya jadi bahan gunjingan penikmat layar kaca.

Dia kini bisa menjelajah dunia. Bebas. Lepas.

Salam hangat dengan senyum lebar tiga jari ala Indra bekti.

IDUNG

idfi14

Iklan

About ceritaidfi

a shy guy who used to dream of becoming a world celebrity but then realized that exploring the world and sharing his stories and his smile to the world are so much more fun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: