RSS Feed

My Name is MULYONO.

Posted on

“MULYONO”.

Call me "MUL"

Begitulah sang pemuda memperkenalkan dirinya.

Pemuda berusia 17 tahun yang lahir tanggal 25 September 1994 ini adalah local guide jalan-jalan saya ke Baduy Luar bersama peserta Jelajah Baduy 11-12 Juni 2011.

Mulyono asli putra Baduy. Di rumah Mulyono lah peserta Jelajah Baduy menginap. Karena orang tua Mulyono termasuk yang sangat terbuka terhadap pendatang dan kebetulan memiliki rumah yang cukup besar untuk menampung rombongan.

Pertama kali saya dikenalkan oleh Marsyad kalau Mulyono ini akan menjadi local guide karena dia adalah penduduk asli Baduy, saya justru malah nggak percaya, “masa orang Baduy namanya kaya orang jawa,  MULYONO.”

“MULYANA kaliiii?” Tanya saya penuh sangsi. Tapi kemudian saya tau kalau nama orang Baduy gak seperti nama orang Sunda pada umumnya.

Saya semakin sangsi kalau Mulyono ini adalah asli Baduy karena saat mulutnya terbuka lebar bisa terlihat kawat gigi warna hijau eh biru (eh apa warna pink ya … eaaaaaaa gue lupa) memagari deretan giginya yang besar-besar hmmmm dia tampak seperti AGATA  (Anak Gaul Ibukota).

Iseng saya tanya, “Mul emang orang baduy boleh pake kawat gigi?”

“Yaaa…gak boleh,” jawabnya polos.

“LAAAAH terus itu yang kamu pake apa? Pager kebon?” tanya saya iseng.

“Yaaaa dari pada gigi saya berantakan,” jawan Mulyono disambung dengan tawa lebar memperlihatkan deretan gigi yang tampak sudah mulai rapi dengan dipagari kawat gigi yang pastinya nggak murah.

Sepanjang perjalanan trekking menuju Baduy Luar tempat Mulyono berasal saya manfaatkan untuk ngobrol dengan Mulyono sang pemuda desa nan trendy ini.

“Mul, emang orang Baduy bole pake celana jeans ya?” tanya saya.

“Gak boleh!” jawab Mulyono.

“LAAAAAH itu kamu pake apa?” tanya saya menunjuk ke Celana Jeans hipster selutut yang dipakai Mulyono. Duh mudah-mudahan celana dalemnya bukan G-string atau thong. Cukup kolor boxer gondrong bergambar Micky Mouse ya Mul.

“Yaaaa sekarang sih banyak yang pake jeans asal warnanya gelap. Orang Baduy dalam warna bajunya putih atau biru tua terus pakai ikat kepala warna putih. kalau Baduy Luar bajunya item dan ikat kepalanya juga item,” jelas Mulyono.

“Oh begitu ya … terus terus kamu sekarang kelas berapa Mul?” tanya saya.

“Saya gak sekolah … orang Baduy gak boleh sekolah,” jawab Mul.

“LOH kok gak boleh sekolah Mul?” tanya saya kaget.

“Ya udah tradisi. Soalnya orang Baduy lebih percaya lisan daripada tulisan.” Begitulah Mul menjawab.

“tapi kamu bisa baca nulis?” tanya saya yang penuh rasa penasaran.

“Bisa … saya belajar dari mas Marsyad dan bapak saya juga suka ngajar. Suka ada yang sukarela ngajar disini asal jangan terlalu keliatan heheh.” Begitulah jawaban Mulyono.

“Eh bule atau orang asing boleh masuk ke baduy gak sih?” tanya saya lagi.

“Ke Baduy Luar masih boleh tapi kalau ke Baduy Dalam kalau bukan orang Indonesia nggak boleh masuk,” jawab Mul.

“kalau listrik, barang elektronik kayak gitu masih dilarang?” tanya saya lagi.

“Iya masih,” jawab Mulyono sambil ngerogoh saku dan … jreng jreng… ngeluarin sebuah benda yang sangat familiar, Handphone (HP).

Saya cuma bisa terbelalak plus super mangap.

Perjalanan pun terus berlanjut.

“Mul …,” panggil saya.

“Iya mas?” jawab Mul.

“kalau lagi gak ada kerjaan kamu ngapain Mul?” tanya saya masih dengan sejuta rasa penasaran berharap mendapatkan jawaban macam: main layangan, bantu bapak ibu di ladang, bikin kerajinan tangan, atau mungkin tidur.

Dan jawabannya ADAAALAAHHHH *gaya Fitri Tropica,

“Maen FACEBOOK!”

Speechless.

Saya pun kembali melanjutkan bertanya ala seorang jurnalis sedang berinvestigasi.

“Mul … kamu suka dengerin musik?”

“Iya lah …,” jawab Mul

“Kamu tau gak penyanyi barat yang lagi jadi trend sekarang siapa?”

“JUSTIN BIEBER!” (Pleaseeeee don’t tell me that you are a big fan of LADY GAGA!)

Okay. Sekarang saya tau, bukan berarti tinggal di pedalaman di sebuah kampung atau desa dari sebuah suku yang memegang teguh adat istiadat lantas membuat siapapun yang tinggal di dalamnya serba tertinggal sebaliknya jarak kiloan meter yang harus ditempuh dengan berjalan kaki bukanlah sebuah alasan untuk tidak maju. Bukan bermaksud menentang adat kebiasan tapi tampaknya arus perubahan jaman dengan kemajuan teknologi informasi dan teknologi telekomunikasi pun tidak bisa dipungkiri sudah terasa hingga ke pedalaman desa sebuah suku bernama Baduy Luar.

Lalu bagaimana dengan Baduy dalam? “AMAN!” kata Mulyono. Tradisi masih ditegakkan!

Baiklah Mul, mudah-mudahan kamu bisa jadi laskar Baduy yang hebat. Titip jaga Baduy ya Mul.

ciaaaaaaaat! PEGADUY (pendekar gaul Baduy), MUL, vs Banci Tampil (photo by Yogi Sujiwo

Salam PEACE, LOVE, GAOL and UNYU

Iklan

About ceritaidfi

a shy guy who used to dream of becoming a world celebrity but then realized that exploring the world and sharing his stories and his smile to the world are so much more fun.

5 responses »

  1. Hebat ya si mul ^^ gw aja kaget pas tau klo dia yg jd guide kita disana :p
    sayang daku ga sempet ngobrol bnyk ama mul ^^ malah ngobrolnya ama si pak sarpim ^^ lumayan nambah ilmu perCokelat-an ..

    Balas
  2. mul kan ikut kejar paket A..

    Balas
  3. Wkwkwkkwkwkkwkwkwkk…. Busyet daaah!

    Balas
  4. kang Idfi? ha ha ha ha ha. . . . . apa kbr? makin famous aja euy. . . . . .

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: