Pengumpan RSS

BERSELANCAR DARI SOFA KE SOFA. Part 2: Siena, Italia

Posted on

Berapa?”, tanya gue.

 “9,5 euro”, jawab sopir taxi. Ckckck mahal ya.

 “Makasih ya”. Dan taxi meluncur.

“BANGGGGGGGGGGGGGG… KOPERRRRRRR!”, Masyaallah koper gue masih di dalem taxi lupa dikeluarin. Untung si taxi belum jauh. Lagian si sopir taxi juga dodol masa lupa ama koper penumpang.

Itulah adegan yang menghiasi kedatangan gue ke Siena, nyaris kehilangan koper.

Meskipun gue adalah peraih beasiswa tapi gue harus ngurus segala-galanya sendirian. Gak ada yang jemput, cari tempat tinggal sendiri. pokonya bener-bener mandiri. Gue tiba di Siena, Italia, tanggal 5 April 2010.

Seharusnya gue tinggal di residenza (asrama) tapi berhubung datang ke Siena saat liburan Paskah maka seluruh residenza pun ikut diliburkan dan baru buka tanggal 7 April. Alhamdulillah berkat berselancar di www.couchsurfing.org gue bisa dapat tebengan nginep.

Voila, here I am now standing in the middle of the night. Sendirian. Berdiri di depan Porta (gerbang) Pispini yang meskipun terlihat tua tapi berdiri dengan megah dan kokohnya. Ohhh inilah salah satu kota tua yang katanya sangat-sangat antik dan cantik dan berada di atas bukit dan dikelilingi benteng. Waaaa kayak yang sering diliat dibuku cerita dongeng. Dan kota ini termasuk warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO. 

 

Waktu menunjukkan pukul 23.30.

Terlihat sepi sekali. Ya mau pada ngapain juga orang-orang keluyuran tengah malam. Mana anginnya lumayan dingin. Cuma ada 2 orang selain gue yang tampak di area Porta Pispini ini. Dua orang perempuan sedang ngobrol di dekat tabaccheria (toko rokok). Mungkin mereka sedang ngegosipin gue kali ya.

cewek 1 “Guarda…liat tuh ada cowok cakep kayaknya baru tiba di Siena…”.

cewek 2 “Yaaa cakep bener tapi sayang kurang tinggi”. *()#@:(

 

Suasananya tenang sekali.

Dalam lamunan gue bertanya “seperti apakah Anna sang calon host yang gue temui di situs couchsurfing? Seperti apakah teman-teman satu apartemennya? Lalu ramah-ramahkah orang-orang yang bakal gue temui di Siena ini? Seperti apakah kehidupan di Siena? Apakah gue akan mendapatkan banyak teman? Apakah justru gue akan kesepian? Apakah gue akan bersenang-senang? Ataukah akan  menghadapi kebosanan? Apakah gue akan bahagia? Ataukah gue akan sengsara? Cinlok gak ya? Apakah gue akan tetap perawan eh perjaka? LOL….Eh Ada karaoke gak ya?” gubrak.

“IDFIIIIIII” teriak seseorang yang datang dari arah dalam gerbang. Teriakan yang memecah lamunan gue.

 “Anna?”, tanya gue

Yes I am”, jawab si yang punya nama dengan senyum yang lebar menandakan orang ini sangat sangat periang ramah dan super supel. “Benvenuto…welcome to Siena! How are you? Was the trip ok?”, dengan ramahnya dia mengucapkan selamat datang dan nanyain gimana perjalan gue.

 “It was great thanks, and how are you too?”, kata gue.

 “Great. Let me introduce you to my friends. This is Moyad and this one is Mohammad. Moyad is my house mate and Mo is his friend. They’re both from Israel”. Lalu saling bersalaman lah kita bertiga. Dan mereka berdua dengan baik hatinya membawakan koper dan ransel backpack ku. Aaaaaaahhhh serasa raja hehehe. Eh tapi dipikir-pikir gue udah bakal nebeng sama mereka udah gitu pake dibawain lagi koper dan ranselnya. Ahhhh biarin laaaah tak baik menolak niat baik orang, betoeeel? J

Sambil jalan kita berempat ngobrol. “Anna, Grazie mille udah ngebolehin aku nebeng di kamarmu sampai lusa. Sekali lagi makasih banyak ya”, kata gue. Duh Anna ini baik, muda, cantik, supel, ramah dan apakah dia rajin menabung? Wallahualam.

Niente Idfi. It’s nothing. Gue juga seneng kok dapat temen baru dari negeri yang jauh. In fact, you’re my first Indonesian friend”, jawab Anna penuh simpatik.

“Oh yaaaa Mo and Moyad…so you both are from Israel? Are you two Jewish?”, tanya gue agak hati-hati.

 “NOOOO… siamo musulmani”, jawab Moyad. Oh kirain mereka Yahudi ternyata mereka beragama Islam.

 “Assalamualaikum”, kata gue spontan.

Dan mereka berdua tampak kaget dan langsung jawab, “waalaikumsalam…sei musulmano, Idfi?”

Si…sono io”. Dan mereka berdua langsung memeluk aku. Ahhhh inilah mungkin reaksi dari saudara beda negara, beda budaya, beda bahasa, beda bulu (karena mereka berbulu lebattttttt jhyaaaaa) tapi satu agama.

 Ah indahnya kalau semua orang bisa saling berangkulan dengan damai meskipun berbeda pandangan, beda budaya, beda bahasa, beda kepercayaan.

Kita berempat, sambil ngobrol untuk saling mengenal satu sama lain, terus menelusuri jalan berbatu yang tampak sudah berusia ratusan tahun. Jalanan naik turun kita lalui. Phuhhhh terbayang kalau harus melaluinya sendrian di tengah malam dengan koper segede bagong plus backpack superduper berat.

Gelap. Kerlap-kerlip lampu yang menempel di dinding bangunan-bangunan abad medieval (abad pertengahan) tampak redup seakan ingin ikut tidur. Ya malam sudah sangat larut. Sudah lewat tengah malam. Angin dingin pun seolah ingin menjadi sahabat di musim semi.

 “Allora, benvenuto in Via Dupre numero 9. This is our house”, sambut Anna.

 Akhirnya tiba juga di rumah tempat aku akan nebeng. Tapi perjuangan belum selesai karena rupanya kamar Anna ada di lantai 3 sekaligus lantai paling atas di apartemen ini dan kita harus naik tangga yang makin ke atas makin sempit. Lagi-lagi sang dua kawan Israel tak sungkan-sungkan membantu mengangkat barang-barang ku. Grazie Mo. Grazie Moyad. Terima kasih.

Well, this is my room. Kamu anggap aja seperti rumah sendiri ya. Maaf kalau kamarnya agak berantakan. Oh ya hati-hati sama balok besi di atas kepalamu”, kata Anna.

Gue mengamati kamar Anna yang emang lebih mirip sarang burung rajawali seperti kamar pertemuan yang suka diceritain di serial novel favoritku saat SMP, STOP (hayooooo ada yang inget gak?). Berada di lantai 3 yang sekaligus atap dari apartemen ini. Berukuran 3×3 m2 dengan kayu mendominasi interior kamar dan batang besi segede bagong memanjang diatas kepalaku yang mungkin cuma berjarak 168 cm dari lantai kamar yang kalau gue tidak membungkuk pasti benjol kepala gue.

 Oh ya Anna…aku tidur di lantai…”

 

Belum selesei gue ngomong Anna langsung motong, “NO…you sleep on my bed. I’ll leave you here alone. I give you my room. I’m gonna stay in the other room with my friend”

 

Ah becanda loooo?” tanya gue gak percaya.

 Lalu Anna ngejawab, This is all yours. feel comfortable. Ok, I’m gonna leave you coz i know you’re so tired. oh ya tomorrow night let’s have dinner together. We’re going to cook the best Italian dinner for you. So…sleep tight and buona notte, Idfi”

“Wow thanks Anna. It’s very kind of you. Good night to you too”, balas gue. Ooooh betapa terharunya hati ini bertemu dengan orang sebaik ini. Che simpatica Anna. Grazie mille.

Gue merasa sangat beruntung karena pengalaman pertama dengan couchsurfing berjalan dengan baik bahkan host nya sangat baik hati. Dua hari berikutnya menjadi hari yang menyenangkan karena Anna nggak Cuma memberikan tebengan aja tapi juga mengorganisir welcome dinner untuk menyambut kedatangan gue dengan menu khas Italia, ngenalin gue ke temen-temennya yang asyik-asyik,

ngajak nonton konser jazz,

ngajak piknik di taman bersama teman-teman kampusnya, sharing. Pokonya Anna udah bantu gue ngerasa betah di Siena, Italia.

(Siena, Tuscany, Italy)

satu hal yang mengasyikkan ternyata apartemen Anna, via Dupre 9, ini terletak di jantung kota Siena dan hanya berjarak 100 meter dari Piazza del Campo, salah satu alun-alun tercantik yang ada di Italia.

I feel like home.

Iklan

About ceritaidfi

a shy guy who used to dream of becoming a world celebrity but then realized that exploring the world and sharing his stories and his smile to the world are so much more fun.

8 responses »

  1. keyeeeennnnn *mupengdotcom*

    Balas
  2. oh idfioooo…

    baca blogmu membuat diriku jadi pingin cepat ke Firenze dan Siena….

    eh il Campo ini juga tempat horse race kan? tadi pagi baru ngetweet soal ini jadi tahu hehehe…

    btw, nebak yg sarang rajawali, itu cerita trio detektif bukan? jupe, bob dan pete 😀

    Balas
  3. mbak Anna ini tampak jagoan ya, temennya cowo semuwah 😀

    Balas
  4. Walaaaaah bekal kamera gak boleh ketinggalan. 😀

    Balas
  5. posenya gak ada yang bener heheheh.. Idpiiii inget , kalau masak nasi jangan sampe bakar satu apartemen yeee wwekekekeke

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: