RSS Feed

Berpetualang Bersama Sahabat (part 5: TOkek vs Kucing)

Sekilas gue perhatiin ibukota Kabupaten Manggarai Barat ini adalah Kota kecil berbukit nan bersahaja dimana bangunan rumah panggung nelayan terbuat dari kayu dengan beratapkan seng di tepi pelabuhan mendominasi ruang kota. Jalan utamanya cuma satu itupun keritingnya minta ampun. Kalau ujan pasti super becek dan pas kita datang kebeneran lagi panas-panasnya jadi debu lah yang menyambut kedatangan kami.

sunrise viewed from Labuan Bajo (by Zam)

Gak jauh dari pelabuhan ada deretan restoran, travel agency, dan hotel. Pilihan kita jatuh ke hotel Gardena. Agak repot juga menuju lobi hotel ini karena letaknya agak di tas bukit jadi harus naik tangga. Sementara Zam dan Jon musti geret-geret koper kalau gue sih cingcay lah naik tangga sambil loncat-loncat petakilan bak kancil perjaka mau berteduh wong cuma bawa satu backpack doang.

Receptionist nya seorang mba-mba berkacamata berbadan mungil bermuka khas orang NTT, berkulit putih dengan rambut agak ikal berwarna kecoklatan, namanya Diana.

“Hai Diana…pacar kamu pasti namanya Charles” (krik krik krik) goda gue dengan gaya suoook kenal sok deket.

Ternyata si Diana ini cekakak cekikik. Wah tanda dia berselara humor tinggi. Sementara bapak-bapak semi item (gak semi bugil ya…males juga liatnya), yang tampaknya juga seorang receptionist, bernama pak Yos. Mereka berdua tampak ramah-ramah. Wahhhh gue punya feeling gue bakal betah nginep di Gardenia ini apalagi kemudian kita bertemu dengan staf hotel lainnya; ada beberapa perempuan muda ramah nan polos yang “ngusat-ngesot” kesana kemari, rupanya kerjaannya merangkap-rangkap, jadi receptionist, waiter, sekaligus room service karena pas kita check in yang ngelayanin Diana, saat minta anduk yang dateng Diana, saat kita pesen makanan yang take order Diana, saat makanan datang yang nganterin Diana. L4. Lo lagi lo lagi. Diana oh Diana jangan-jangan tukang parkir hotel pun kamu (but thanks God untung gak ada tukang parkir di hotel. Apanya yang mau diparkirin wong gak ada lahan parkir).

Surprisingly, harga kamar hotelnya murah meriah (later, a bule friend told us that it was expensive…heh ada yang lebih murah?!). Ada dua tipe kamar:

  1. Standard. Bangunannya masih baru.
  •  
    • Single bed room: Rp. 165.000,-
    • Double bed room: Rp. 225.000,-
  1. Ekonomis. Bangunan lama.
  •  
    • Single bed room: Rp. 150.000,-
    • Double Bed room; Rp. 200.000,-

 

Dan karena kita bertiga maka kita minta yang triple/family bed room. Harganya R. 275.000/mlm. Kamarnya berupa bungalow dengan dinding bilik, dua kasur berukuran queen size lengkap dengan kelambu. Ahhhh seperti ranjang penganten. *Kok mengingatkan aku sama film Nyi Blorong yang dibintangin almarhumah Suzanna sang ratu horor. Wewwww.

Hotel gardenia ini juga punya restoran yang menyajikan masakanan yang lumayan enak dan ekonomis. Bayangin harga nasi goreng daging (ayam+sosis+telor mata sapi+kerupuk) harganya Cuma Rp. 15.000 dengan porsi seabrek yang cukup buat dua orang. Cuma emang nasinya agak keras ya. Nasi si Jon dan Zam juga sama-sama agak keras. Jangan-jangan emang beginilah kalau orang Labuan Bajo, NTT, masak nasi… musti agak keras.

Salah satu moment yang berkesan saat tinggal di gardenia Hotel ini adalah saat malam natal. Gue gak ngerayain natal tapi malam itu rasanya hampir sebagian besar penghuni hotel, kira-kira 30 orang dari berbagai negara latar belakang agama ras, duduk di lobi hotel yang merangkap sebagai restoran, semua bule, cuma gue sama si Zam yang orang Indonesia, bisa ngerasain suasana natal yang sangat bersaja.

Semua berawal saat menjelang tengah malam, seorang bule tiba-tiba muncul bawa pohon natal mini yang sudah lengkap dengan dekorasinya dan menempatkannya di salah salah satu meja. Lalu ada satu keluarga bule, dengan anak-anak kecil yang tampaknya kuat begadang karena udah hampir jam 12 malam masih ikut nongkrong, memainkan lagu-lagu bernuansa natal dari laptop. Dan tau-tau kita kita semua nyanyi “we wish you a merry x-mas….” dan saling mengucap selamat natal dengan senyum penuh rasa respect dan persaudaraan. Oh indahnya perdamaian.

Acara malam natal ini ditutup dengan menyaksikan pertarungan antara dua kucing dan sang tokek. Seriusssssss. Tiba-tiba aja muncul tokek remaja (kok bisa tau tokek remaja? Iya soalnya dandanannya alay banget….wew) di lantai di tengah-tengah kita semua. Dengan anggunnya sang tokek mejeng di tengah-tengah bule-bule yang tengah merayakan natal jauh dari sanak sodaranya (kecuali dua pemuda Indonesia yang masih setia merayakan Idul Fitri? Siapa? IPIN dan UPIN…booooo gak lah ya kita berdua, gue dan zam. Lagian Ipin dan Upin masih kecil dan dari Malaysia juga…arggh dibahas).

Rupanya kehadiran sang tokek menarik perhatian dua kucing yang sama-sama alay juga. Kok tau kucingnya alay? Soalnya gak ngerti ngomong apaan “m3@n9….m3@n9…m3@n9”, begitu bunyinya. Coba artinya apa? Gak ngerti kan?

Si kucing tadinya Cuma duduk-duduk merhatiin si tokek. Tapi gak berapa lama kemudian entah karena tokeknya mereka anggap lucu, entah karena lapar, entah karena nabirong (napsu birahi merongrong) tiba-tiba dua kucing itu nyerang si tokek.

Gue pikir langsung abis nih riwayatnya si tokek. Bukannya lari ngibrit malah ngeladenin si kucing berbadan tambun yang entah buntiang atau emang maruk. Ternyata si tokek kecil ini jagoan dan pemberani. Meski mungkin dia merasa tertindas tapi dia tak mau menyerah. Dia membuka mulutnya lebar-ebar memperliahatkan gigi-giginya yang tajam dan mengeluarkan suara mengerang garang yang nyeremin. Gue aja serem dengernya apalagi si kucing. Gak nyangka dari badan yang mungil itu bisa keluar “big voice” (jangan-jangan tokek ini kesurupan Mariah Carey atau Mantili…GUBRAK).

Kurang lebih selama 10 menit kita semua deg-degan melihat adegan kucing yang tampak Cuma berani nindas makhluk kecil silih berganti nyakar dan ngegigit si tokek dan si tokek yang gak mau nyerah begitu aja berbalik menyerang dengan menggit kucing dan tak lupa mengeluarkan “AUMAN” yang berbunyi “WEKKKKKK”. Sampai akhirnya kita semua sang manusia kembali waras dan sadar kalau si tokek kewalahan melawan dua kucing bringas. Si tokek pun kita amankan dan sang kucing kita usir. Malam natal pun kembali tenang. Satu per satu pamit untuk menikmati damainya Labuan Bajo dalam indahnya alam mimpi. Buona notte.

(Bersambung)

Iklan

About ceritaidfi

a shy guy who used to dream of becoming a world celebrity but then realized that exploring the world and sharing his stories and his smile to the world are so much more fun.

One response »

  1. Fi..actually,am quite sleepy u know…tp penasaran..pgn nerusin baca cerita kamu..hahaha

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: