RSS Feed

Berpetualang Bersama Sahabat (part 4: Labuan Bajo)

LABUAN BAJO

 24 Desember

 

Yipiiiiiiiiii hari ini, 24 desember 2010, adalah hari bersejarah dalam hidup gue. kenapa eh kenapa bersejarah? Karena untuk pertama kalinya dalam hidup ini gue terbang ke bagian indonesia Timur. meskipun bukan Indonesia paling timur tapi bagi gue perjalanan ini adalah perjalan ke Indonesia bagian timur paling jauh, Labuan Bajo, Nusa tenggara timur.

 

Sebagai pemuda (wait! batasan umur pemuda itu dari range berapa sampai berapa tahun sih sebenernya? Kalau 32 tahun masih pantas dikategorikan pemuda kah?) Indonesia sebenernya gue malu karena masih sangat minim pengetahuan dan pengalaman menjelajah negeri ini. Dan sering kali Cuma bisa menghela napas saat mendengar pengalaman para penjelajah bermuka pucat berambut pirang dan kadang bau tujuh rupa (saking jarangnya mandi kali) berkelana hingga kepelosok Indonesia.

 

Malah kayaknya kok orang Indonesia lebih bangga kalau jalan-jalan ke luar negeri. Baru ke Malaysia ajah gayanya udah sejuta apalagi sampe ke Eropa atau Amerika wuihhhhh langsung keriting lidahnya. Mudah-mudahan Cuma segelintir orang aja yang kayak begitu. Tapi kalau mampu, mau dan ada kesempatan buat jalan ke luar negeri sok ajah wajib kudu malahan untuk membuka wawasan tapi jangan sampai lupa buat menjelajah sang bumi pertiwi ini karena Indonesia is dangerously beautiful.

 

Oleh sebab itulah ketika Zam ngajak untuk travelling ke Indonesia Timur sekaligus menghadiahkan boat trip Pulau Komodo  sebagai hadian ulang tahun wuihhhhhh senangnya gak bisa digambarkan. I feel so lucky.

 

Setelah terbang kurang lebih dua jam dari bandar udara Ngurah Rai Bali akhrinya kita bertiga, zam, Jon dan gue, mendarat di bandara udara Labuan Bajo. Sebelum mendarat pesawat terbang di atas kepulauan yang hijau kecoklatan menunjukkan bahwa kepualauan ini cukup gersang tapi siapapun yang meihat akan berdecak kagum melihat gugusan pantai pulau-pulau nan gersang ini. Gugusan pantai berpasir putih dengan gradasi air laut; bening, hijau, toska, biru yang sangat mempesona membuat pulau-uplau gersang ini tampak indah dari ribuan kaki di atas permukaan laut. Beberapa penumpang pesawat berkebangsaan asing tampak asyik jeprat jepret di balik jendela pesawat membidikan lensa kameranya ke arah daratan dan lautan.

 

Begitu keluar dari pintu pesawat pandangan gue langsung ke bangunan utama di airport.

 

Is that an airport or balai desa?” tanya gue dalam hati.

 

Bangunanya berukuran kurang lebih 8×15 m² dengan eksterior yang sangat bersahaja macam sekolah dasar (bagusan airport ini sih). Ada dua pintu; kedatangan dan keberangkatan yang jaraknya berdekatan. Saat masuk ke interior bangunan pun tampak lengang tidak seperti airport pada umumnya. Gak ada counter informasi, gak ada counter hotel, gak ada counter taksi bahkan pengambilan bagasipun secara manual; ambil sendiri dari “gerobak” barang.

 

Yang lebih lucunya lagi saat kita semua keluar dari gedung airport kita semua justru gak bisa keluar area airport karena ada pagar, macam pagar di balai desa, yang ternyata digembok. Lah gimana keluarnya coba? Sementara para penjemput dan para sopir omprengan tembak semua ada di luar pagar. Bahkan seorang turis asal Kanada nanya “How can we get out?”. Boh meneketehe.

 

Rupanya setelah tamu numpuk di luar bangunan barulah sang petugas juru kunci keluar dan membuka gembok. Dan kita semua bagai ternak piaraan langsung ngacir keluar disambut sopir tembak macam peternak siap ngegiring ternakannya ke sawah.

 

Kita bertiga pun langsung diantar oleh si sopir dengan avanza hitam mulus menuju pelabuhan yang berjarak hanya 15 menit dari airport itupun setelah melalui jalan super keriting. Coba kalau jalannya semulus mobil cuma 5 menit kali langsung sampai di pelabuhan. Ongkos dari airport – pelabuhan ini Rp. 50.000.

 

Begitu tiba di pelabuhan kita seharusnya langsung naik boat untuk menuju pulau Kanawa. Zam udah booking kamar di resort pulau tersebut. Rencananya kita menginap semalam dan keesokan harinya kembali ke labuan bajo untuk memulai boatrip ke komodo.

 

Kalau saja kita tiba di pelabuhan sebelum jam 12 maka kita bisa dapat free transfer dari pelabuhan ke pulau Kanawa dengan boat tapi sayangnya kita tiba jam 1 siang jadi kita ketinggalan boat dan berarti harus nyewa sendiri.

 

Dari salah satu staff kanawa dapat info bahwa sewa boat sekali jalan menuju Kanawa dari pelabuhan adalah Rp.250.000. Tapi saat kita tanya kesana kemari di pelabuhan ternyata tak ada satupun boat yang beroperasi karena saat kita datang cuaca sedang buruk, angin kencang dan laut tampak bergelombang. Kalaupun mau tetap nekad nyebrang kita harus sewa boat seharga Rp. 600.000 sekali jalan. Siaaaaaal mahal bener .

 

Akhirnya kita mutusin gak jadi nyebrang. Semalam di Kanawa aja Cuma Rp. 300.000 perkamar tapi nyebrangnya dua kali lipatnya. Ahhh selamat tinggal Kanawa. Padahal kita udah ngebayangin snorkling, “mengejar” ikan-ikan aneka warna, berjalan menelusuri pantai berpasir putih, berenang di airlaut dengan gradasi warna laut nan bening hijau toska, biru.

 

Kita mutusin untuk mencari penginapan di Labuan Bajo saja.

 

(Bersambung)

Iklan

About ceritaidfi

a shy guy who used to dream of becoming a world celebrity but then realized that exploring the world and sharing his stories and his smile to the world are so much more fun.

3 responses »

  1. someday, i’m gonna fly here!

    Balas
  2. oia kurang -t! hahaha (#gapenting)

    klo ke medan mo ikut dong 😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: